Kamis, 07 Juli 2016

AKU RINDU MENULIS SEDIH DALAM PUISI

Seperti sepi,
yang akan selalu kembali merayakan kehadiran,
entah sekarang, entah juga esok pagi.

Puisi, seperti aliran mata air yang menghapus dahaga,
kesepian akan kata,
kesepian akan rasa yang hendak disampaikan lewat pena,
kesepian akan cerita-cerita,
entah itu duka atau bahagia.

Aku rindu menulis puisi,
menyampaikan segala isi hati,
tentang bagaimana kau menjalani hari,
juga tentang cinta yang baik,
yang sedang dalam perjalanannya menuju hati,
hatiku.

Aku rindu menulis puisi,
saat kata demi kata di atas kertas 
mampu begitu menenangkanku.
Seperti kamu,
seperti tawa dan segala hal yang ada padamu.

Maka akan kubentangkan lagi,
lembaran bait demi bait,
hamparan kata tiap kata yang terangkai sempurna,
untukku, setidaknya.

Selasa, 28 Juni 2016

Jangan Sakiti Aku

Mama...
Kasihanilah aku.
Lihatlah tubuhku yang kecil ini, lemah, dan tiada berdaya...
Seandainya Mama membentak dan memukulku aku takkan mampu mengelak, apalagi untuk melawan...

Mama...
Sayangilah aku.
Janganlah membentak dan memukulku , hanya karena kesalahan kecil yang aku lakukan.
Kesalahan yang aku sendiri pun tak mengerti...

Mama...
Bukankah mama tahu, usiaku baru di bawah 5 tahun.
Bagaimana mungkin aku bisa membedakan baik dan buruk setiap perbuatanku, tanpa didikan dan bimbinganmu...

Mama....
Baru tadi mama mencium pipiku, memeluk tubuhku, dan mengajak aku bercanda dengan gelak tawa.
Namun mengapa sekarang mama bentak dan pukuli aku, mama siksa aku...?
Hanya karena aku berbuat kesalahan kecil, yang aku sendiri pun tak mengerti arti kesalahanku...

Mama...
Aku tak mengerti kalau mama capek mengurusku seharian...
Yang aku inginkan hanyalah, aku disayangi dan diperhatikan...
Yang aku butuhkan adalah keselamatan dan kenyamanan...

Mama...
Lindungilah aku dari bahaya...
Berilah aku perlindungan dan keselamatan...
Aku bukan hanya butuh makan dan mainan...
Tapi lebih dari itu, aku butuh kasih sayang dan kehangatan cinta Mama seperti yg cinta papa  berikan padaku meski papa tak sering di sampingku krn harus bekerja untukku...

Mama...
Ingatlah...
Bukankah aku adalah harapan masa depanmu...?
Yang kelak akan meneruskan generasimu...?
Bimbinglah aku, sayangilah aku...
Didiklah aku dengan baik, penuh sopan santun dan tata krama dan dengan penuh kasih sayang...
Karena kelak di suatu saat nanti, InsyaALLAH aku pun akan melakukan yang sama terhadapmu, bila kau tua dan sudah tak berdaya...

Mama...
Tidakkah iba hatimu melihat banyak temanku mati bergelimpangan di tanah Palestina, Afganistan, atau Herzegovina...?
Mereka mati karena kebiadaban tentara Israel dan Amerika...
Hikss hiksss...
Dan banyak juga temanku yang mati karena kekejaman para pembantu rumah tangga yang tak berperikemanusiaan...
Maukah Mama, andai aku mengalami nasib yang sama dengan mereka...?
Tentu tidak bukan...?
Maka dari itu, sayangilah aku, kasihilah aku, cintailah aku...
Didiklah aku dengan segenap jiwamu, tanpa ada emosi dan ketidaksabaran...
Itulah permohonan tulus dariku, anakmu yang kau sayangi, tapi juga kau bentak,pukuli dan kau sakiti....

(*Makassar, 28 Juni 2016*)